Sokasi Bali

Desa Tigawasa adalah sebuah desa tua (Bali Aga) yang terletak di daerah pegunungan, di Kecamatan Banjar kabupaten Buleleng, Propinsi Bali, Desa Tigawasa berjarak 20 km dari kota Singaraja (Profil desa Tigawasa, tahun 2011). Desa Tigawasa merupakan pusat berbagai kerajinan anyaman bambu seperti  kerajinan “Sokasi”. Dari sejumlah kerajinan tersebut, kerajinan “sokasi” merupakan “ciri khas yang unik” dan sekaligus kerajinan andalan Desa Tigawasa. keunikan yang terdapat pada kerajinan “sokasi”, yaitu hampir semua ibu-ibu rumah tangga bahkan gadis-gadis remaja dan anak-anak berusia dari 10 tahun bisa membuat “sokasi”. Sedangkan keunikan pada kerajinan “sokasi” yaitu pada corak dekoratif khas Bali, dengan ciri ungkap khas Buleleng yang merupakan kepribadian seni kerajinan Tigawasa.

Pengerajin dari Tigawasa kebanyakan mengerjakan secara sendiri-sendiri di rumah masing-masing sesuai dengan order yang diterima dari pengepul. Bahkan mayarakat yang pengerajin, ada sama sekali bukan untuk dijual, hanya sebatas bisa untuk kepentingan sendiri. Untuk kepentingan upacara agama hindu, adat (tradisi), sebagai cindramata, dan sebagai koleksi seni. Barang yang dihasilkan diserahkan kepada pengepul dengan harga yang 2 bervariasi sesuai dengan ukuran dan kualitas produk yang dihasilkan.

Cikal bakal kerajinan anyaman bambu ini dimulai sejak zaman Jepang menjajah di Bali, tetapi berkembang menggunakan cat sejak tahun 1985, kemudian sejak tahun 2000 baru mengenal motif yang inovatif. Di desa Tigawasa Kecamatan Banjar kabupaten Buleleng telah berdiri Kelompok Pengerajin “Sokasi” dengan nama kelompok “Sandat”, “Tunjung”, “Kecapa Bamboo Craf”, dan “Cempaka“. Di samping itu, Kelompok Pengerajin “Gedeg” dengan nama kelompok masing-masing dengan nama “Mawar”, “Cendana”, “Anggrek”,dan dan “Taru”. Tiap kelompok jumlah anggotanya berkisar 5 hingga 10 orang.

Jenis produk kerajinan anyaman bambu “sokasi” yang dihasilkan oleh kelompok maupun masyarakat di Desa Tigawasa antara lain: tempat nasi, tempat sarana upacara berbagai bentuk, hiasan dinding, hiasan lampu, tas cantik, tempat tisu, tempat kue dengan gaya pokok dekoratif dan gaya latar belakang adalah gaya naturalis .

Produk kerajinan anyaman bambu “Sokasi”  banyak diminati para seniman karena keunikan anyaman bambu Tigawasa ini. Keunikannya yang terletak pada unsur kepribadian Buleleng gaya dekoratif dan naturalistiknya. Kerajinan anyaman bambu “sokasi”  tidak saja diminati oleh para seniman, tetapi juga diminati oleh para kolektor seni baik dari dalam Negeri maupun dari manca negara. Banyak para pengerajin anyaman bambu menerima pesanan khusus untuk cindra mata. Bahkan anyaman bambu “sokasi”  yang sangat unik pembuatannya membutuhkan waktu sampai beberapa minggu dengan nilai jual sampai mencapai Rp 350.000 (tigaratus lima puluh ribu rupiah). 

Untuk kerajinan “sokasi“ memiliki keunikan motif khas Tigawasa yaitu motif nagasari, dan 3 motif cokelat dengan tekstur naturalistik. Produk ini banyak digunakan sebagai dekorasi upacara agama Hindu, hiasan dinding, hiasan pintu masuk rumah, hiasan gapura, untuk alat- alat upacara, untuk hiasan meja tamu, untuk hiasan tempat-tempat sidang, pertemuan, seminar, untuk cindra mata, dan sebagainya. Produk “sokasi“ ini telah dipamerkan di hotel- hotel, Galeri-galeri, museum-museum baik di dalam maupun di luar negeri.

 

Sumber : http://lemlit.undiksha.ac.id/media/1284._rai_sujanem,_m